Seribuan warga Kota Banda Aceh dari
berbagai elemen saat demonstrasi di kantor gubernur Aceh dan kantor DPR
Aceh, Kamis (7/4/2011). Mereka menuntut pemerintahan Aceh menindak
penyebaran aliran sesat di propinsi yang sudah menegakkan syariat islam
ini. | K12-11
MEDAN, KOMPAS.com — Sejumlah warga dari berbagai
daerah di Sumatera Utara mengaku kehilangan anaknya dalam beberapa
tahun terakhir karena diduga terlibat dalam aliran sesat.
Khudri Ahmad, warga Tanjung Gading, Kabupaten Batubara, mengatakan kepada wartawan di Medan, Selasa (26/4/2011) malam, bahwa anaknya yang bernama Deyulanti (25) hilang sejak 26 Maret 2009.
Anaknya yang merupakan alumnus Universitas Sumatera Utara (USU) itu tidak pernah kembali sejak mengikuti sebuah kelompok pengajian yang tidak diketahui.
Berdasarkan informasi yang didapatkan, terdapat sembilan orangtua lainnya yang juga mengaku kehilangan anak karena mengikuti aliran tersebut. "Sementara ini, ada 10 orang yang mengaku kehilangan anaknya," kata Khudri.
Khudri mengaku pernah mendapatkan informasi mengenai keberadaan anaknya di Langsa, Aceh, pada November 2009 sehingga ia menyusul ke daerah itu dengan beberapa anggota keluarganya.
Meski tidak berhasil menemukan anaknya, Khudri yakin bahwa putrinya itu mengikuti aliran yang berada di Langsa tersebut karena mendapatkan pakaian dan kartu tanda penduduk.
Namun, teman-temannya yang berada di tempat itu tidak bersedia memberitahukan keberadaan Deyulanti, anaknya, meski didesak pihak keluarga. "Mereka tertutup sekali, lalu memberikan jawaban yang asal-asalan," katanya.
Pihaknya pernah berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI Sumut) yang menyebutkan bahwa kemungkinan aliran sesat itu bernama "Alhaq" dan "Alhijrah".
Namun, jika dilihat dari cara perekrutan dan perilaku anak-anak yang hilang itu, pihaknya melihat ada kesamaan dengan jaringan Negara Islam Indonesia (NII). "Ciri-cirinya hampir sama," katanya.
Pihaknya juga telah melaporkan hal tersebut ke Mapolda Sumut. "Namun belum ada hasilnya sampai sekarang," kata Khudri.
Dalam memberikan keterangan itu, Khudri Ahmad didampingi sejumlah orangtua lain yang juga mengaku kehilangan anak mereka karena diduga mengikuti aliran sesat tersebut.
Nama sembilan wanita lain yang hilang itu pertama adalah Nurhidayah (23), alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut, anak dari Bachtiar, warga Jalan Pelita IV Medan. Nurhidayah hilang sejak 24 Desember 2008.
sumber : http://regional.kompas.com/read/2011/04/26/23492021/10.Orang.Hilang.Diduga.Ikut.Aliran.Sesat
Kalau bicara aliran sesat mungkin kita ketahui sudah banyak berita dimana-mana,didaerah saya sendiri juga ada yang seperti itu. mengapa bisa orang tersebut terkena aliran-aliran seperti itu? menurut saya itu karena kurangnya keyakinan akan tuhan.Kita harus selalu memegag teguh agama yang kita jalani ini. Agar tidak terpengaruh hal tersebut. Dan jika ada orang asing sebaiknya jangan terlalu akrab, orang-orang aliran tersebut mengerti cara mencuci otak kita agar menurut dengan apa yang mereka katakan. Kita harus berhati-hati agar terhindar dari ajaran-ajaran sesat tersebut.
Khudri Ahmad, warga Tanjung Gading, Kabupaten Batubara, mengatakan kepada wartawan di Medan, Selasa (26/4/2011) malam, bahwa anaknya yang bernama Deyulanti (25) hilang sejak 26 Maret 2009.
Anaknya yang merupakan alumnus Universitas Sumatera Utara (USU) itu tidak pernah kembali sejak mengikuti sebuah kelompok pengajian yang tidak diketahui.
Berdasarkan informasi yang didapatkan, terdapat sembilan orangtua lainnya yang juga mengaku kehilangan anak karena mengikuti aliran tersebut. "Sementara ini, ada 10 orang yang mengaku kehilangan anaknya," kata Khudri.
Khudri mengaku pernah mendapatkan informasi mengenai keberadaan anaknya di Langsa, Aceh, pada November 2009 sehingga ia menyusul ke daerah itu dengan beberapa anggota keluarganya.
Meski tidak berhasil menemukan anaknya, Khudri yakin bahwa putrinya itu mengikuti aliran yang berada di Langsa tersebut karena mendapatkan pakaian dan kartu tanda penduduk.
Namun, teman-temannya yang berada di tempat itu tidak bersedia memberitahukan keberadaan Deyulanti, anaknya, meski didesak pihak keluarga. "Mereka tertutup sekali, lalu memberikan jawaban yang asal-asalan," katanya.
Pihaknya pernah berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI Sumut) yang menyebutkan bahwa kemungkinan aliran sesat itu bernama "Alhaq" dan "Alhijrah".
Namun, jika dilihat dari cara perekrutan dan perilaku anak-anak yang hilang itu, pihaknya melihat ada kesamaan dengan jaringan Negara Islam Indonesia (NII). "Ciri-cirinya hampir sama," katanya.
Pihaknya juga telah melaporkan hal tersebut ke Mapolda Sumut. "Namun belum ada hasilnya sampai sekarang," kata Khudri.
Dalam memberikan keterangan itu, Khudri Ahmad didampingi sejumlah orangtua lain yang juga mengaku kehilangan anak mereka karena diduga mengikuti aliran sesat tersebut.
Nama sembilan wanita lain yang hilang itu pertama adalah Nurhidayah (23), alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut, anak dari Bachtiar, warga Jalan Pelita IV Medan. Nurhidayah hilang sejak 24 Desember 2008.
sumber : http://regional.kompas.com/read/2011/04/26/23492021/10.Orang.Hilang.Diduga.Ikut.Aliran.Sesat
Kalau bicara aliran sesat mungkin kita ketahui sudah banyak berita dimana-mana,didaerah saya sendiri juga ada yang seperti itu. mengapa bisa orang tersebut terkena aliran-aliran seperti itu? menurut saya itu karena kurangnya keyakinan akan tuhan.Kita harus selalu memegag teguh agama yang kita jalani ini. Agar tidak terpengaruh hal tersebut. Dan jika ada orang asing sebaiknya jangan terlalu akrab, orang-orang aliran tersebut mengerti cara mencuci otak kita agar menurut dengan apa yang mereka katakan. Kita harus berhati-hati agar terhindar dari ajaran-ajaran sesat tersebut.