Total Tayangan Halaman

Pages

Selasa, 18 Maret 2014

Mari Kenal lebih jauh suku asmat


Suku asmat merupakan salah satu suku di papua dan persebaran suku asmat di papua menyebar menjadi federasi/ pemerintahan dengan aturannya sendiri. Berbeda federasi/pemerintahan tetapi tetap dalam satu rumpun asmat.

Di bawah ini adalah peta persebaran suku asmat 


Orang Asmat menganut prinsip hubungan kekerabatan yang bersifat patrilineal.Patrilineal itu adalah adat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah akan tetapi dalam pola tempat tinggal bisa saja seorang lelaki ikut dalam kelompok batih istrinya. Batih itu adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak atau keluarga inti. Keluarga-keluarga batih itu tergabung lagi dalam kelompok keluarga luas patrilinial sampai kepada cikal bakal yang pertama beberapa tingkat keatas Kelompok keluarga luas ini disebut yeu, dan bersama dengan yeu lainnya membentuk federasi desa dan mendiami rumah komunal federasi yang disebut yeu juga. Jadi sudah jelas bahwa suku asmat yang tersebar ini adalah federasi keluarga yang tersebar di desa asmat.

A.Manusia Suku Asmat

Manusia suku asmat memiliki ciri-ciri fisik berkulit hitam dan berambut keriting. Tubuhnya cukup tinggi wanita sekitar 162 cm dan laki-laki sekitar 172 cm. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman seperti persebaran federasi suku asmat diatas.


Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai tetapi seiring jalannya waktu kelompok-kelompok tersebut tersebar menjadi beberapa federasi yang di sebabkan perbedaan cara hidup, kebudayaan, dll.

Ada banyak pertentangan di antara desa yang berbeda suku Asmat. Yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai Suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh dibunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan dimakan.

Tapi sejak tahun 90-an suku ini mulai belajar cara untuk becocok tanam dan kebutuhan pangan mereka itu teralihkan menjadi beras dan ikan. Sebagian lagi sudah ada yang terbiasa memakai pakaian atau bisa kita sebut "tidak primitif lagi". Kebutuhan hidup mereka dengan menjual hasil kesenian ukiran kayu mereka yang unik. Tetapi karena harganya yang rendah untuk tetap bertahan hidup biasanya mereka itu berburu di hutan atau bernelayan mencari ikan di sungai. Perlu diketahuan adalah makanan pokok suku asmat adalah sagu. 

Hampir setiap hari mereka makan sagu yang dibuat menjadi bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara api. Kegemaran lain adalah makan ulat sagu yang hidup dibatang pohon sagu, biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun nipah, ditaburi sagu dan dibakar dalam bara api. Selain itu sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap. Namun demikian yang memprihatinkan adalah masalah sumber air bersih. Air tanah sulit didapat karena wilayah mereka merupakan tanah berawa. Mereka terpaksa menggunakan air hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. 

B.Hakekat Manusia

Hakikat manusia adalah peran ataupun fungsi yang harus dijalankan oleh setiap manusia. Dapat dikatakan bahwa manusia dilengkapi dengan akal, pikiran, perasaan dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya di dunia. Begitu juga suku asmat kualitas hidup mereka terus berkembang sebagai contoh dari mereka belum mengenal pakaian sekarang mereka sudah mengenakan pakaian walupun mungkin tidak semua orang suku asmat menggunakan pakaian modern ada juga yang masih tradisioanal. Yang menyebabkan manusia itu berkembang sebagai berikut.

1.Perasaan intelektual

Perasaan yang bersangkutan dengan pikiran dalam menyelesaikan problem-problem yang dihadapi, dalam pemerintahan suku asmat mereka dapat menyelesaikan masalah sehingga mereka dapat berkembang seperti jika mereka mebutuhkan makanan mereka berburu atau bernelayan. Bahkan mereka berdagang atau membeli dari orang lain karena mereka mau menerima kebudayaan lainmasuk kedaerah mereka.Orang suku asmat berkembang layaknya manusia yang lain.

   2.Perasaan estetis

   Perasaan yang menyertai atau yang timbul karena seseorang menghayati sesuatu yang indah atau tidak indah. Seperti suku asmat yang terkenal dengan ukiran kayunya mereka membuat sesuatu yang indah bahkan terkenal keluar daerah mereka.  

   3.Perasaan etis

   Perasaan tentang baik-buruk, suku asmat sempat mengalami pertetangan dengan mereka ada  memakan  daging manusia. Lama kelamaan mereka sadar itu tidak baik maka mereka meninggalakan kebudayaan tersebut dan menganti pangan mereka menajdi ikan dan sayur.
 
   4.Perasaan diri

Perasaan diri ini menyangkut harga diri manusia ada yang positif maupun negatif, semua manusia mempunyai harga diri sebagai suatu manusia termasuk manusia suku asmat dulu setiap musuh mereka atau ada orang yang masuk kedaerah mereka,mereka langsung bunuh dan memakan daging mereka tetapi kerendahan hatipun lama kelamaan muncul dan mereka mau menerima keberadaan orang dari luar dan menyebabkan kebudyaan mereka berkembang.
 
5.Perasaan sosial    

Perasaan mengikat antara individu dengan manusia lain, yang menyebabkan   berkehidupanbermasyarakat seperti terbentuknya suatu suku itu membuktikan mereka hidup dalam suatu kelompok atau masyarakat
    
6.Perasaan religi
Perasaan yang menyangkut ketuhanan, dalam suku asmat berkembang kebudayaan religi   masuknya agama karena orang asing masuk kedalam lingkungan kebudayaan suku asmat sehingga mereka mengenal adanya tuhan tidak menggunakan ritual-ritual lagi tapi sebagian orang suku asmat masih banyak yang melakukan ritual.
C.Kepribadian Bangsa Timur

Di dunia bangsa timur dikenal sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat..Pada umumnya kepribadian bangsa timur adalah sangat terbuka dan toleran terhadap bangsa lain, tetapi selama masih sesuai dengan norma, etika serta adat istiadat yang ada. Namun walaupun kita sudah tahu banyak tentang kepribadian bangsa Timur kita tidak bisa selalu beranggapan bahwa kebudayaan bangsa Timur lebih baik dari bangsa Barat. Karena semua kebudayaan itu ada baik dan buruknya. Contoh kebudayaan timur hormat dengan orang yang lebih tua, berpakaian sopan, dll.

D.Unsur-unsur Kebudayaan
  
1.Sistem Politik
Sistem kepemimpinan lebih ditekankan pada kemampuan dan kewibawaan seorang lelaki yang mempunyai tubuh perkasa dan memiliki banyak pengalaman dalam pertempuran. Jadi bisa dibilang makin hebat si pemimpin makin di hormati dia.

Dalam kehidupan sosial politik setiap kampung mempunyai seorang pemimpin adat yang disebut yeu iwir, dan masing-masing federasi yeu mempunyai seorang pemimpin yang disebut tase wu. Para pemimpin adat dibantu oleh sejumlah penasehat yang disebut arakamse wir, yaitu orang-orang bijak yang kaya akan pengalaman.

2.Organisasi Sosial
Orang Asmat terbagi dalam beberapa subkelompok suku bangsa yang timbul karena adanya federasi-federasi desa dalam zaman peperangan antar kampung dan kelompok dulu. Federasi adat ini ditandai oleh adanya kesamaan dialek dan simbol-simbol kesatuan sosial mitologis. Sub kelompok tersebut antara lain : Unisirau, Bismam, Simai, Emai-Ducur, Betch-Mbuo, Kaimo, Safan, Brazza, dan Joerat.

3.Sistem Religi

Masyarakat Asmat menganut kepercayaan animisme-dinamisme. Sebelumnya saya jelaskan dulu apa itu animisme dan dinamisme, Animisme itu adalah kepercayaan terhadap roh dan dinamisme adalah masih percaya dengan ritual-ritual pemujaan dan bisa kita lihat disana setiap orang dianggap mampu berhubungan dengan dunia roh yang mereka yakini. Tokoh yang memimpin upacara keagamaan disebut arapak tor. Pusat kegiatan sosial religiusnya berada dalam rumah yeu. Patung / ukir-ukiran suku Asmat merupakan simbolisasi pemikiran mereka tentang kepercayaan mereka yang berorientasi pada pemujaan roh, baik roh nenek moyang maupun roh-roh alam dan makhluk lain yang dianggap ikut berpengaruh pada kehidupan manusia. Akan tetapi pada masa sekarang, masyarakat Asmat sudah ada yang memeluk agama Katolik. Karena masuknya budaya asing kedalam suku asmat sistem religinya pun ikut berkembang.

4.Kesenian-Kesenian 

A. Rumah Tradisional
Disetiap kampung suku Asmat, ditandai dengan adanya rumah ye, je atau yeu, yaitu rumah bujang yang dihuni kaum laki-laki. Disekitarnya berdiri rumah-rumah keluarga batih yang dihuni oleh kaum perempuan serta anak-anak yang masih diasuh ibunya. Rumah yeu merupakan pusat kegiatan masyarakat Asmat. Rumah ini khusus dihuni kaum laki-laki dewasa dan anak laki-laki yang sudah balikh.

B. Seni Ukir

Suku Asmat terkenal sebagai ahli ukir patung dan panil dari kayu. Patung tersebut digunakan untuk keperluan kegiatan keagamaan mereka.
E.WUJUD KEBUYAAN

1.Kompleks Aktivitas Suku asmat suka melakukan ritual-ritual karena mereka percaya kepada roh, dalam kegiatan  sehari-hari mereka berburu dan bernelayan bersama untuk mendapatkan makanan.Mereka bergotong royong untuk kehidupan mereka.

2.Wujud Sebagai Benda Kebudayaan ukiran suku asmat sudah terkenal dan sangat indah serta rumah-rumah adat yang mereka tempati sangat menawan. Rumah-rumah tersebut berbeda-beda bentuk dan fungsi.
F.ORIENTASI NILAI BUDAYA

Sistem kebudayaan suku asmat didasari oleh kebudayaan dimasa lalu mereka masih memegang teguh kebudayaan leluhur. Percaya kepada roh tetapi mereka tidak menutup budaya lain masuk mereka masih mau menerima dengan baik kebudayaan lain dengan rendah hati.  
G.PERUBAHAN BUDAYA

Perubahan kebudayaan jelas terjadi dengan masuknya kebudayaan luar agama mereka pun makin berkembang dan baju yang modern mulai masuk,mereka mulai memakainya. Mereka juga mulai mengenal cara bercocok tanam dan bernelayan.

H.KAITAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Sudah jelas kaitan manusia dengan kebudayaan sangat erat karena manusia menyesuaikan dengan keadaan lingkungan dan kebudayaan saat ini suku asmat mau menerima kebudayaan lain dengan terbuka sehingga kebudayaan mereka dapat berkembang dan tidak melupakan budaya para leluhur mereka. Mereka berkembang ke jalan yang lebih baik.
 
Sumber :
 


.        4.     Hidayah, Zulyani. 1999. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar