A.Pengertian
Penderitaan
Hidup
itu memang sulit pasti kita mengalami penderitaan dan kebahagian, jika kita
mendapat kebahagian senang hati ini. Bagaimana dengan penderitaan? jika kita
mendapat penderitaan tidak akan menyenangkan. Penderitaan itu sendiri bisa di
katakan kesengsaraan atau kesusahan yang kita alami. Pasti setiap dari kita
pernah mengalami penderitaan. Penderitaan merupakan resiko hidup yang kita
alami. Kita tidak mengharapkan hidup selalu bahagia. Saya sendiri juga
merasakan penderitaan, dari saya yang kadang selalu tidak didengarkan, tidak di
perhatikan, dll. Di kampus juga saat kita mendapat nilai yang kecil saya akan
merasa menderita, kadang juga bertanya “saya sudah berusaha tapi hasilnya tidak
memuaskan.kenapa begitu?”, ada niat untuk memperbaiki bertanya kesana kesini
tapi tidak ada yang bisa memberi bantuan/terkadang malah dicuekin. Itu contoh
kecil penderitaan.
Penderitaan
juga selain secara psikis juga bisa secara fisik, secara fisik itu berarti saat
kita sakit, itu juga merupakan penderitaan. Kita tidak mungkin diberikan
kesulitan oleh allah yang tidak bisa kita atasi. Penderitaan bisa terobati misal
jika sakit kita pergi kedokter, saat sedih ada teman yang menghibur, suatu
penderitaan pasti akan hilang jika kita tegar menghadapinya. Banyak orang yang
sangat menderita tidak kuat untuk menghadapinya sampai-sampai ada kejadian
bunuh diri. Saya harap kita bukan orang yang mudah menyrah menghadapi sesuatu.
Karena penderitaan pasti ada obatnya.
Sedikit
Kisah untuk pembelajaran
Pengalaman
Sri Purwati alias Butet (34). Perempuan asal Jumo, Temanggung , Jawa Tengah,
ini tak digaji selama 25 tahun menjadi pembantu di Medan, Sumatera Utara.
Selain sering mendapat siksaan fisik maupun mental, dia juga dipaksa kehilangan
masa kecil, masa remaja, dan hak untuk sekolah.
Sri merupakan anak transmigran. Orang tuanya, pasangan Petan Sutrisno dan Fatimah, membawa Sri dan adiknya, Budiono, mencoba peruntungan pindah ke Pulau Sumatera, tepatnya di pedalaman Sumatera Utara. Saat pindah dari Pulau Jawa, Sri masih berusia sekitar 5 tahun. Dia tak ingat di mana persis lokasi tempat mereka tinggal. Dia cuma bisa menggambarkan tempat itu dengan menyeberangi sungai, lewat jembatan.
Derita Sri dimulai ketika ayah dan ibunya berpisah saat Sri berusia sekitar 6 tahun. Sang ayah membawa adiknya kembali ke Pulau Jawa. Waktu itu alasannya mau kumpul sama keluarga yang sedang ada pesta di Jawa, ucap Sri di Medan, Selasa (13/3) siang. Ibunya sempat menikah lagi dengan pria bernama Juhari. Mereka tinggal berpindah-pindah. Saat bermukim di Medan, Sri sempat disekolahkan, namun hanya tiga bulan. Belakangan ketika usia Sri menjelang 9 tahun, ibunya Fatimah terjerumus ke lokalisasi di Bukit Maraja, Simalungun, Sumatera Utara. Tak lama berselang, perempuan itu melarikan diri. Sri ditinggalkan. Bocah itu ditemukan mucikari bernama A Eng dan dibawa ke Medan.
A Eng mempekerjakan Sri sebagai pembantu di beberapa rumah di Kampung Lalang, Medan. Selama dua bulan, bocah ini tak pernah mendapat gaji. Kemudian, Sri melarikan diri. Dalam pelariannya, dia bertemu PRS yang kemudian membawanya ke rumahnya di Jalan KH Zainul Arifin Medan. Sempat mengira akan diselamatkan dan dijadikan anak, ternyata Sri kembali jadi budak. Bahkan kali ini lamanya sampai 25 tahun.
Selama menjadi pembantu di rumah PRS, berbagai perlakuan kasar dialami Sri. Dia kerap dipukul, dijambak, dan dimaki. Bahkan perempuan ini dua kali nyaris diperkosa kerabat majikannya yang masih remaja. Kulaporkan sama bapak itu (PRS). Dia bilang biasa itu, katanya
Sang majikan juga mengubah semua identitas Sri. PRS memanggilnya dengan nama Butet. Di kartu rumah tangga bernomor 025028/01/02861 yang dikeluarkan Kecamatan Medan Polonia, Medan, Sumatera Utara, namanya diubah menjadi Sri Purwasih Naomi dengan kolom pekerjaan diisi sebagai pembantu. Agama yang dianutnya semasa kecil juga diubah.
Sri tidak dibenarkan keluar rumah. Dia juga tak pernah berbelanja. Perempuan ini pernah mencoba melarikan diri. Tapi sial, dia ditemukan aparat kecamatan yang mengembalikannya ke rumah keluarga PRS. Sampai akhirnya, 8 Februari lalu, dia berhasil melarikan diri setelah dianiaya keluarga majikannya. Dalam pelarian kali ini, Sri diselamatkan kepala lingkungan setempat. Perlakuan yang diterima Sri jelas-jelas pelanggaran HAM, karena perlakuannya sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan, hak Sri untuk tumbuh dan berkembang sudah dirampas sejak ia kecil, bahkan setelah dewasa hak dia sebagai pekerja tidak diberikan, ucap Rina Sitompul, pendamping Sri dalam upaya hukumnya.
Sri merupakan anak transmigran. Orang tuanya, pasangan Petan Sutrisno dan Fatimah, membawa Sri dan adiknya, Budiono, mencoba peruntungan pindah ke Pulau Sumatera, tepatnya di pedalaman Sumatera Utara. Saat pindah dari Pulau Jawa, Sri masih berusia sekitar 5 tahun. Dia tak ingat di mana persis lokasi tempat mereka tinggal. Dia cuma bisa menggambarkan tempat itu dengan menyeberangi sungai, lewat jembatan.
Derita Sri dimulai ketika ayah dan ibunya berpisah saat Sri berusia sekitar 6 tahun. Sang ayah membawa adiknya kembali ke Pulau Jawa. Waktu itu alasannya mau kumpul sama keluarga yang sedang ada pesta di Jawa, ucap Sri di Medan, Selasa (13/3) siang. Ibunya sempat menikah lagi dengan pria bernama Juhari. Mereka tinggal berpindah-pindah. Saat bermukim di Medan, Sri sempat disekolahkan, namun hanya tiga bulan. Belakangan ketika usia Sri menjelang 9 tahun, ibunya Fatimah terjerumus ke lokalisasi di Bukit Maraja, Simalungun, Sumatera Utara. Tak lama berselang, perempuan itu melarikan diri. Sri ditinggalkan. Bocah itu ditemukan mucikari bernama A Eng dan dibawa ke Medan.
A Eng mempekerjakan Sri sebagai pembantu di beberapa rumah di Kampung Lalang, Medan. Selama dua bulan, bocah ini tak pernah mendapat gaji. Kemudian, Sri melarikan diri. Dalam pelariannya, dia bertemu PRS yang kemudian membawanya ke rumahnya di Jalan KH Zainul Arifin Medan. Sempat mengira akan diselamatkan dan dijadikan anak, ternyata Sri kembali jadi budak. Bahkan kali ini lamanya sampai 25 tahun.
Selama menjadi pembantu di rumah PRS, berbagai perlakuan kasar dialami Sri. Dia kerap dipukul, dijambak, dan dimaki. Bahkan perempuan ini dua kali nyaris diperkosa kerabat majikannya yang masih remaja. Kulaporkan sama bapak itu (PRS). Dia bilang biasa itu, katanya
Sang majikan juga mengubah semua identitas Sri. PRS memanggilnya dengan nama Butet. Di kartu rumah tangga bernomor 025028/01/02861 yang dikeluarkan Kecamatan Medan Polonia, Medan, Sumatera Utara, namanya diubah menjadi Sri Purwasih Naomi dengan kolom pekerjaan diisi sebagai pembantu. Agama yang dianutnya semasa kecil juga diubah.
Sri tidak dibenarkan keluar rumah. Dia juga tak pernah berbelanja. Perempuan ini pernah mencoba melarikan diri. Tapi sial, dia ditemukan aparat kecamatan yang mengembalikannya ke rumah keluarga PRS. Sampai akhirnya, 8 Februari lalu, dia berhasil melarikan diri setelah dianiaya keluarga majikannya. Dalam pelarian kali ini, Sri diselamatkan kepala lingkungan setempat. Perlakuan yang diterima Sri jelas-jelas pelanggaran HAM, karena perlakuannya sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan, hak Sri untuk tumbuh dan berkembang sudah dirampas sejak ia kecil, bahkan setelah dewasa hak dia sebagai pekerja tidak diberikan, ucap Rina Sitompul, pendamping Sri dalam upaya hukumnya.
B.Siksaan
Siksaan ada yang kita
alami secara fisik atau secara mental, secara fisik adalah penderitaan yang
kita alami secara langsung (tubuh) dan penderitaan secara mental adalah
penderitaan yang melibatkan perasaan atau batin kita. Siksaan secara mental/psikis
dibagi menjadi 3, yaitu:
1.
Kebimbangan
2.
Kesepian
3.
Ketakutan
Dari kisah diatas dapat kita lihat
betapa tersiksanya sri diawali dari
perpisahan kedua orang tuanya. Pada saat umurnya 9 tahun dia di tinggal oleh
ibunya dan ditemuakan oleh mucikari dan di jadikan PRT setelah itu dia
melarikan diri lalu ditemukan lagi oleh seseorang dan di bawa kerumahnya di pekerjakan
menjadi pembatu. Dia disiksa dan tidak digaji selama 25 tahun.
Hal tersbut dapat menyebabkan
trauma/phobia, beberapa sebab orang mengalami ketakutan yaitu:
Ø
Claustrophobia dan Agoraphobia
Claustrophobia adalah takut terhadap ruangan tertutup
Agoraphobia sebaliknya yaitu ketakutan berada ditempat terbuka
Agoraphobia sebaliknya yaitu ketakutan berada ditempat terbuka
Ø
Gemang
Ketakutan seseorang di tempat tinggi
Ø
Kegelapan
Ketakutan seseorang di tempat yang gelap
Ø
Kesakitan dan Kegagalan
Seseorang yang takut karena sakit yang dialami dan seseorang
yang takut jika usahanya gagal
D.
Kekalutan Mental
penderitaan
batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Gangguan yang
terjadi itu dapat menyebabkan gangguan pada kejiwaan seseorang.yang menyebabkan
perilaku orang tersebut menjadi tidak wajar. Sri dengan tekadnya yang tidak
pernah pantang menyerah berusaha mendapatkan hak-haknya kembali akhirnya
berhasil membebaskan diri dari penderitaan yang dia alami. Walaupun hak-haknya
selama 25 tahun belum terbayarkan. Dengan rendah hati pula sri masih kasihan
kepada orang yang menyiksanya dan tidak berharap pelaku tersebut hukumannya
ringan. Tetapi saya piker pelaku layak mendapat hukuman karena perbuatanya
telah mebuat sri sangat menderita.
E.
Penderitaan Dan Perjuangan
Dibalik penderitaan pasti ada kebahagian, jalan
untuk mendapat kebahagian adalah usaha dan berjuang untuk mendapatkannya.
Seperti dalam cerita perjuangan tiada henti bertekat dengan penuh usah agar
kehidupannya menjadi lebih. Kesendiriannya tidak membuatnya patah semangat.
Patut dicontoh perjuangnnya yang tanpa henti. Usaha dari setiap orang pasti
akan terbayar sesuai dengan berapa keras usaha dan perjuangnya.
F.
Penderitaan dan sebab-sebabnya
Penderitaan pasti ada sebabnya bisa perbuatan dari
diri sendiri atau pun dari orang lain. Penyebab penderitaan itu ada 2 bentuk bisa dari penderitaan
yang timbul karena perbuatan buruk manusia dan juga karena penyakit,
siksaan/azab allah.
Penderitaan
yang dialami di cerita tersebut adalah penderitaan karena manusia, perbuata
dari penyiksaan terhadap sri akan di selesaikan secara hukum dan akan
mendapatkan azab dari allah. Karena perbuatan tersebut sudah memberikan dampak
buruk untuk sri.
G.
Pengaruh Penderitaan
Hasil
dari penderitaan yang dialami bisa berdampak negatif dan positif. Contoh sikap
negatif yang timbul pada penderitaan : penyesalan karena tidak bahagia, kecewa,
putus asa dan ingin bunuh diri. Kemudian dari sikap negatif ini akan menimbulkan
sikap anti, contohnya : anti kawin (tidak mau kawin), tidak punya gairah hidup,
tidak mau pacaran lagi.
sikap
positif berarti optimis tidak mau menyerah menghadapi penderitaan hidup.
Perjuangan dibutuhkan untuk menghilangkan segala penderitaan yang kita alam. Contoh
sikap positif ini akan menimbul kan sikap anti atau keras namun positif,yatiu :
anti kawin paksa, anti di permainkan hati, anti ibu tiri, anti kekerasan.
Sumber
:
0 komentar:
Posting Komentar